Artist Statement
[English]
The prompt given to me is a depiction of daily life in 1786 (by a white, British man, of course) on the now-vanished Krakatau, a volcanic island whose 'child' now sits a mere 150km from my home. The eruption in 1883 destroyed the island.
Across the thousands of footsteps they took upon that trembling earth, the senses of the mothers who lived there must have been finely tuned to recognize and understand the whims and will of the Tall and Mighty. Yet, with that knowledge left uncaptured, and through the disasters that followed (whether geological nor colonial), that connection was severed.
Hundreds of years later, when I heard those mysterious booms on April 10, 2020 (rumored to be from Anak Krakatau, the aforementioned ‘child’), I found myself anxious, scared, and detached from it all. Left in the dark and unknowing.
—
[Bahasa Indonesia]
Prompt yang diberikan Myra padaku adalah upaya seorang pelukis (pria Inggris berkulit pucat, tentunya) dalam menggambarkan keseharian pada tahun 1786 di Pulau Krakatau, sebuah pulau vulkanik yang ‘keturunan’nya sekarang hanya berjarak sekitar 150km dari rumahku. Erupsi pada tahun 1883 menghancurkan pulau ini.
Dengan beribu tapak yang mereka jalani di atas tanah yang bergemuruh itu, pasti indera para ibu yang tinggal di sana sudah sangat terlatih untuk memahami tingkah polah sang Maha Tinggi. Namun, dengan pengetahuan yang tak sempat direkam dan bencana yang mengikuti (baik geologis maupun kolonial), hubungan ini pun terputus.
Beratus tahun kemudian, aku yang pada 10 April 2020 mendengar dentuman-dentuman misterius (yang katanya sih, dari Anak Krakatau) merasa cemas dan takut, terasing dalam ketidaktahuan.
[English]
The prompt given to me is a depiction of daily life in 1786 (by a white, British man, of course) on the now-vanished Krakatau, a volcanic island whose 'child' now sits a mere 150km from my home. The eruption in 1883 destroyed the island.
Across the thousands of footsteps they took upon that trembling earth, the senses of the mothers who lived there must have been finely tuned to recognize and understand the whims and will of the Tall and Mighty. Yet, with that knowledge left uncaptured, and through the disasters that followed (whether geological nor colonial), that connection was severed.
Hundreds of years later, when I heard those mysterious booms on April 10, 2020 (rumored to be from Anak Krakatau, the aforementioned ‘child’), I found myself anxious, scared, and detached from it all. Left in the dark and unknowing.
—
[Bahasa Indonesia]
Prompt yang diberikan Myra padaku adalah upaya seorang pelukis (pria Inggris berkulit pucat, tentunya) dalam menggambarkan keseharian pada tahun 1786 di Pulau Krakatau, sebuah pulau vulkanik yang ‘keturunan’nya sekarang hanya berjarak sekitar 150km dari rumahku. Erupsi pada tahun 1883 menghancurkan pulau ini.
Dengan beribu tapak yang mereka jalani di atas tanah yang bergemuruh itu, pasti indera para ibu yang tinggal di sana sudah sangat terlatih untuk memahami tingkah polah sang Maha Tinggi. Namun, dengan pengetahuan yang tak sempat direkam dan bencana yang mengikuti (baik geologis maupun kolonial), hubungan ini pun terputus.
Beratus tahun kemudian, aku yang pada 10 April 2020 mendengar dentuman-dentuman misterius (yang katanya sih, dari Anak Krakatau) merasa cemas dan takut, terasing dalam ketidaktahuan.